Kamis, 19 Maret 2015

BAB 1 PEREKONOMIAN INDONESIA

BAB I
1.      Kebijakan Pangan di Indonesia Pada Masa Penjajahan

Masa Penjajahan
Menurut penjelasan di atas bahwa pada masa penjajahan bahan pangan yang penting adalah beras. Harga beras merupakan landasan kebijaksanaan beras. Selama pada masa ini harga beras terpuruk, pemerintah memberikan kebijaksanaan untuk tidak ekspor beras bertujuan untuk mempertahankan stabilitas harga beras didalam negeri. Dan pada masa penjajahan kebijaksanaan beras yang diambil pada waktu itu adalah untuk menjaga harga beras yang dibayar konsumen rendah. Ini bertujuan agar masyarakat tidak sengsara dalam menghadapi kenaikan beras, hal ini ditandai juga dengan turut campur tangannya pemerintah dibidang produksi beras dan juga dibentuknya badan VMF. Ketika penghasilan petani jatuh akibat depresi dunia, pemerintah menurunkan pajak tanah dan pemerintah ikut turut dalam pengawasan perusahaan penggilingan beras, dengan maksud menjaga pada penggiling agar tidak melakukan hal yang mengakibatkan goyahnya pasar beras local.
2.      Analisa Mengenai Kebijakan Pangan Dan Pembangunan Pertanian di Indonesia Pada Masa Orde Lama dan Orde Baru
Masa Orde Lama
Kita lihat diatas bahwa pengalaman – pengalaman lampau memberikan banyak pelajaran mengenai cara – cara peningkatan produksi yang kemudian diambil alih dan disempurnakan oleh orde baru. Namun perlu di ingat bahwa sewaktu Pemerintah Orde Baru mulai memegang kekuasaan, sektor perberasan di Indonesia dalam keadaan menyedihkan.produksi beras di          Jawa dalam tahun 1965hanya 2 persen lebih tinggi daripada produksi tahun 1954, tingkat produksi yang terakhir inipunhanya kurang lebih sama dengan tingkat produksi sebelum Perang  Dunia II. Hasil beras per hektar untuk seluruh Indonesia tidak menunjukan kenaikan selama sepuluh tahun. Kenaikan produksi bersumber semata – mata dari luar Jawa yang menunjukan kenaikan rata – rata sebesar 1 persen setahun kerena adanya perluasan areal produksi. Dengan pertumbuhan penduduk sebesar 2 persen setiap tahun, menyebabkan semakin membesarnya defisit beras bagi Negara ini. Yng lebih parah adalah menurunnya beras perkapita yang tersedia untuk konsumsi, dari 107 kilogram dalam tahun 1960 menjadi 92 kilogram dalam tahun 1965. Persediaan beras perkapita ini jauh di bawah tingkat yang cukup bagi pertumbuhan gizi seperti disampaikan dalam lokakarya mengenai pangan yang diadakan tahun 1968.
Masa Orde Baru
            Sejak semula pemerintah orde paru baru sadarnya pentinggnya persediaan barang beras yang cukup, pada pertengahan 1966 Kolognai diberi tugas untuk menyalurkan dana kepada para pengikut Bisma melalui para Gubernur dan Bupati di seluruh Provinsi Di Indonesia . Namun pada target awalnya awal intensifikasi Bisma di tentukan pada tingkat yang cukup optimis dapat dicapai hasil perhektar. Kenaikan produksi tersebut merupakan satu sebab utama dicapainya tingkat pembelian beras dalam negri yang sangat tinggi pada waktu itu, sebelum tahun 1996 harga beras nail 300 persen tetapi dengan makin mantapnya orde baru, Kolognas dibubarkan dalam tahun dalam tahun 1967 diganti dengan Bulog, sebuah badan yang mengelolah persediaan pangan dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Pada tahun 1967 diawali dengan pertanda yang mengembirakan dengan adanya panen padi musim hujan yang cukup baik dan pembelian beras dalam Negri cukup besar. Namun pertanda ini hanyalah pertanda yang semu, pada awal September tahun 1967 panen beras musim kering ternyata menjukkan penurunan tajam sebagai akibat musim kering panjang yang melanda Asia Tenggara.
            “Krisis beras“ pada tahun 1967 tersebut mengisyaratkan para perumusan kebijakansanaan bahwa program penyediaan beras memegang peran utama dalam kebijaksanaan stabilisasi secara keseluruhan. Beras mempunyai bobot 31 persen dalam Indeks Biada Hidup untuk 62 Macam Barang di Jakarta dan beras merupakan komponen upah yang penting ( wage good ) sehingga memegang peranan ekonomi yang sangat menentukan.
3.      Analisa Tentang Kebijakan Pembangunan Tanaman Non Pangan Pada Berbagai Era Pembangunan.
Tanaman non pangan contohnya adalah tembakau. Kita lihat diera saat ini, tembakau banyak diproduksi oleh banyak pabrik untuk pembuatan rokok. Biaya ekonomi dan sosial yang ditimbulkan akibat konsumsi  tembakau terus meningkat dan beban peningkatan ini sebagian besar ditanggung oleh masyarakat miskin. Angka kerugian akibat rokok setiap tahun mencapai 200 juta dolar Amerika, sedangkan angka kematian akibat penyakit yang diakibatkan merokok terus meningkat. Di Indonesia, jumlah biaya konsumsi tembakau tahun 2005 yang meliputi biaya langsung di tingkat rumah tangga dan biaya tidak langsung karena hilangnya produktifitas akibat kematian dini, sakit dan kecacatan adalah US $ 18,5 Milyar atau Rp 167,1 Triliun.[i] Jumlah tersebut adalah sekitar 5 kali lipat lebih tinggi dari pemasukan cukai sebesar Rp 32,6 Triliun atau US$ 3,62 Milyar tahun 2005 (1US$ = Rp 8.500,-)
Jumlah perokok di seluruh dunia kini mencapai 1,2 milyar orang dan 800 juta diantaranya berada di negara berkembang. Indonesia merupakan negara ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India. Peningkatan konsumsi rokok berdampak pada makin tingginya beban penyakit akibat rokok dan bertambahnya angka kematian akibat rokok. Rokok membunuh 1 dari 10 orang dewasa di seluruh dunia, dengan angka kematian dini mencapai 5,4 juta jiwa pada tahun 2005. Tahun 2030 diperkirakan angka kematian perokok di dunia akan mencapai 10 juta jiwa,  dan 70% diantaranya berasal dari negara berkembang. Saat ini 50% kematian akibat rokok berada di negara berkembang. Bila kecenderungan ini terus berlanjut, sekitar 650 juta orang akan terbunuh oleh rokok, yang setengahnya berusia produktif dan akan kehilangan umur hidup (lost life) sebesar 20 sampai 25 tahun.
4.      Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia
Menurut Chenery, perubahan struktur ekonomi sebagai transformasi struktur yang diartikan sebagai suatu rangkaian perubahan yang saling terkait satu sama lain dalam komposisi Agregat Deman (AD) dan Impor (X-M). Agreat Supply (AS) yang merupakan produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal untuk mendukung proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berlanjut. (Tambunan, 2003).
Teori umum yang digunakan dalam menganalisis perubahan struktur ekonomi, yakni dari Arthur Lewis tentang migrasi sedangkan Hoilis Chenery tentang teori transportasi struktural. Pada dasarnya teori Lewis membahas tentang proses pembangunan ekonomi yang terjadi didaerah pedesaan dan daerah perkotaan.
Lewis juga mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya terbagi menjadi 2 yaitu perekonomian tradisional di pedesaan yang di dominasi sector pertanian dan perekonomian modern di perkotaan dengan industri sebagai sector utama. Bentuk perekonomiannya masih bersifat tradisianal dan sub sistem, dan pertumbuhan penduduk yang tinggi maka terjadi kelebihan Supply tenaga kerja.
A.    Struktur Perekonomian Indonesia
         Analisis struktur prekonomian Indonesia menunjukan bahwa perekonomian Indonesia masih menjadi tulang punggung perekonomian Negara. Perekonomian Indonesia itu bisa di tinjau dari keuangan dan bisa juga ditinjau dari keuangan dan bisa juga ditinjau dari demokrasi pengambilan keputusan dan tinjauan makro sektoral. Jadi secara keseluruhannya struktur perekonomian Indonesia masih berubah-ubah dimasa orde baru, secara makro sektoral dan birokrasi.

B.     Struktur Ekonomi Dari Tinjauan Makro-Sektoral
   Berdasarkan tinjauan makro-sektoral perekonomian suatu negara dapat berstruktur agraris, industri, atau niaga. Hal ini tergantung pada sektor apa/mana yang dapat menjadi tulang punggung perekonomian negara yang bersangkutan. Dilihat secara makro sektoral dalam bentuk produk domestik bruto maka struktur perekonomian Indonesia tahun 1990-an masih agraris, namun sekarang sudah berstruktur industri.
Struktur perekonomian Indonesia yang industrialisasi pada saat ini sesungguhnya belum mutlak, tetapi masih sangat dini. Industrialisasi di Indonesia barulah berdasarkan kontribusi sektoral dalam membentuk PDB atau pendapatan nasional. Industrialisasi yang ada belum didukung dengan kontribusi sektoral dalam penerapan tenaga dan angkatan kerja. Apabila kontribusi sektoral dalam menyumbang pendapatan dan dalam penerapan tenaga kerja diperbandingkan, maka struktur ekonomi Indonesia ternyata masih dualisme.
Boeke seorang ekonom Belanda mengatakan bahwa perekonomian Indonesia berstruktur dualistis. Sebab dari segi penyerapan tenaga kerja dan sumber kehidupan rakyat (53,69%), sedangkan sektor industri pengolahan hanya menyerap 10,51% tenaga kerja.
C.     Struktur Ekonomi Dari Tinjauan Keruangan
Pergesern sturktur ekopnomi secara makro-sektoral senada dengan pergeserannya dengan keruanngan, ditinjau dari sudut pandang keruangan, struktur perekonomian telah bergeser dari struktur pedesaan menjadi struktur perkotaan. Hal ioni dapat kita lihat dan kita rasakan sejak Pelita I hingga era reformasi sekarang ini. Kemajuan perekonomian di kota-kota jauh lebih besar dibandingkan dengan di pedesaan., hal ini disebabkan pembangunan industri-industri pengolahan di daerah perkotaan dan juga makin berkembangnya sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi.
            Dengan demikian jumlah penduduk yang tinggal di kawasan pedesaan menjadi lebih sedikit, hal ini bukan semata-mata karena perpindahan pendudik dari pedesaan ke kota untuk bekerja di pabrik-pabrik tetapi juga karena mekar dan berkembangnya kota-kota khusunya di pulau Jawa sehingga terjadi penumoukan penduduk disini. Disamping itu juga kehidupan masyarakat sehari-hari semakin modern yang tercermin dari perilaku konsumtif masyarakat dan juga penerapan teknologi modern untuk proses produksi oleh perusahaan-perusahaan.


D.    Struktur Ekonomi Dari Tinjauan Penyelenggaraan Kenegaraan
            Ditinjau dari sini maka struktur perekonomian dapat dibedakan menjadi struktur etatis, egaliter, atau borjuis. Di Indonesia tidak cocok menggunakan struktur ekonomi borjuris, karena struktur ekonomi borjuris menimbulkan krisis perekonomian di Indonesia. Sebab, hanya kalangan pemodal dan usahawan saja yang mengendalikan sektor utamanya. Oleh karena itu, Indonesia lebih cocok menggunakan struktur ekonomi legaliter, karena struktur ini dianggap lebih efektif dalam membangun perekonomian di Indonesia. Sebab melibatkan seluruh penggerak roda perekonomian yang akan membawa perekonomian Indonesia menjadi lebih baik.
E.     Struktur Ekonomi Dari Tinjauan Birokrasi Pengambilan Keputusan
Dilihat dari sudut tinjauan birokrasi pengambilan keputusan, struktur ekonomi dapat dibedakan menjadi struktur ekonomi yang terpusat (sentralisasi) dan tidak terpusat (desentralisasi). Dalam struktur ekonomi yang sentralistis pembuatan keputusannya lebih banyak ditetapkan oleh pemerintah pusat atau kalangan atas pemerintahan. Sedangkan struktur ekonomi yang desentralisasi, pembuatan keputusannya ditetapkan oleh Pemerintah daerah atau kalangan pemerintahan dibawah. Struktur birokrasi pengambilan keputusan yang sentralistis terpelihara rapi selama pemerintahan orde baru. Struktur perekonomian yang etatis dan sentralistis berkaitan erat. Pemerintah Pusat menganggap bahwa Pemerintah Daerah belum cukup mampu untuk diserahi tugas untuk melaksanakan pembangunan ekonomi. Namun  demikian sejak awal pembangunan jangka panjang tahap kedua struktur perekonomian yang etatis dan sentralistis tersebut secara berangsur mulai berkurang kadarnya, dan keinginan untuk melakukan desentralisasi dan demokratisasi ekonomi makin besar.

REFERENSI:
1.      lib.ui.ac.id
4.      Booth, Anne & Peter Mc Cawley. 1982. Ekonomi Orde Baru. LP3ES



NAMA KELOMPOK :

1.      AJENG NIKITA C              ( 20214656 )
2.      DANIA PURBAWATI        ( 22214511 )
3.      NURUL AINI                       ( 28214249 )
4.      PUJI FAJRIANI                   ( 28214546 )
5.      RESHA ARTIYANI                        ( 29214077 )
6.      RISTIA RISMAWATI        ( 29214529 )
7.      SIFA FAUZIAH                   ( 2A214256 )
8.      ZAKIYAH AULIA P           ( 2C214648 )




BAB 2 PEREKONOMIAN INDONESIA

BAB II

A.    Strategi Pembangunan Sektor Industri Pengganti Impor ( Inward Looking )

Industri pengganti impor atau dapat dikatakan inward looking , pada dasarnya berorientasi kepada PSS dalam negri yang mengutamakan barang – barang olahan dalam negri. Tetapi dibatasi dalam mengimpor barang olahan, kerena dilindungi dengan kebijakan proteksi. Jadi barang yang diimpor diusahakan tidak diimpor lagi, tetapi diproduksi di dalam negri.
 Kebanyakan negra berkembang memajukan industrialisasi di negaranyaa dengan harapan akan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Disisi lain, penyelenggaraan indutrialisasi membutuhkan banyak perlengkapan kapital. Tetapi kebanyakan negra berkembang dalam mampu membuat perlengkapan kapital tersebut secara mandiri. Untuk membuat perlengkapan kapital tersebut negara berkembang akan mengekspor barang primernya agar dapat diimpor dengan barang kapital. Namun, karena terlalu fokus pada produksi primer untuk diekspor, negara berkembang mengalami ketidakstabilan pendapat yang diesebabkan karena persaingan barang impor yang semakin besar dan nilai tukar barang impor negara berkembang rendah.
 Untuk mengatasi masalah tersebut, penganti impor dan pendorong ekspor merupakan cara terbaik untuk mengatasi masalah tersebut. Melalui pengganti impor harusnya tidak diberlakukan yang membatasi impor barang produksi impor agar elastisitas pendapatan lebih tinggi.

Tingginya elastisitas pendapatan terhadap impor barang produksi di Negara berkembang disebabkan oleh :
1.      Bertambahanya jumlah menduduk dan berlakunya efek pamer internasional
2.      Kebutuhan barang produksi semakin besar
3.      Usaha meningkatkan hasil produksi primer guna meningkatkan pendapatan devisa

Berhasilnya pembangunan ekonomi negara maju diawali dengan industrialisasi dengan cara menciptakan produk untuk memenuhi kebutuhan di dalam negri. Setelah disubtitusi sebagian hasilnya diekspor dan ditukar dengan barang kebutuhan pembangunan ke luar negri.
 Sedangkan dinegara berkembang selain mengimpor barang indutri, negara berkembang pun dapat mengekspor bahan makanan . industri subtitusi impor dalam pelaksanaannya dibutuhkan banyak devisa agara memicu dinaikkannya pendapatan sektor ekspor, negara terpaksa mengadakan pinjaman luar negri.

@.  Motif – Motif Subtitusi Impor
1.      Bagi negara berkembang, subtitusi impor dimaksudkan untuk mengrangi atau menghemat devisa.
2.      Subtitusi impor timbul bila pemerintah suatu negara berusaha memperbaiki neraca pembayarannya, baik melalui kuota maupun tarif.
3.      Angkapan bahwa industri subtitusi impor bukan untuk merugi atau mengganti banrang impor, namun karena pemerintah bertujuan untuk mengembangkan perekonomian dalan negeri

·         Masalah yang muncul dalam subtitusi impor yaitu :
1.      Kualitan barang yang dihasilkan
2.      Efisiensi alokasi faktor produksi
3.      Biaya produksi

@.  Subtitusi Impor dan Pinjaman Luar Negri

            Jumlah kapital negara berkembang jauh lebih sedikit dibandingkan kebutuhan pembangunannya, karena belum dapat memproduksi sendiri alat. Terpaksa harus mengimpor dari negara lain, pembayarannya menggunakan devisa.
Sumber devisa utama suatu negra berasal dari ekspor barang dan jasa serta pinjaman luar negri. Negara berkembang melakukan pinjaman luar negeri karena rendahnya devisa, akibat nilai tukar barang produksi primernya rendah di pasar luar negeri.

@.  Segi Positif & Negatif Dari Pinjaman Luar Negeri

1.      Dari segi positif
Merupakan sumber yang tidak sedikit peranannya dalam pembangunan ekonomi negara termasuk pembangunan subtitusu impor
2.      Dari segi negatif
Adanya pinjaman luar negri suatu negara akan terikat suatu kewajiban, yakni kewajiban membayar pinjaman tersebut, kemampuan untuk mengimpor barang guna memenuhi kebutuhan dalam negeri akan berkurang, devisa yang diperoleh dari pendapata ekspor harus digunakan untuk nengangsur pinjaman. Dengan demikian akan terjadi purchasing power dalam negeri .

@.  Subtitusi Impor Dalam Inflasi
            Inflasi dapat mengguntungkan dalam suatu perekonomian, namun tak jarang onflasi banyak merugikan. Keuntungannya adalah inflasi dapat  membawa perbaikan bidang ekonomi maupun non ekonomi. Pada negara maju inflasi lunak mendorong kegiatan ekonomi dan pembanguan yang berdampak pada tingkat full employment.
Hal ini tidak dapat terjadi pada negara berkembang dikarenakan :
1.      Negara mempunyai sedikit excess capacity
2.      Inflasi tidak diikuti naiknya investasi riil
3.      Pendapatan masih rendah

@.   Subtitusi Impor Di Berbagai Sektor
Subtitusi impor dianggap ada apabila suatu barang tingkat produksinya meningkat lebih cepat dari pada impornya. Namun ini mempunyai kelemahan bila ternyata produksi dalam negeri tetap, sedangkan impornya menurun karena berbagai pembatasan.
1.      Industry Barang Pokok
2.      Industry Pangan ( pertaian )
3.      Industry Jasa

B.  Strategi Industru Pendorong Ekspor ( Outward looking )
Yakni strategi yang memfokuskan pada pengembangan industri nasional lebih berorientasi ke pasar internasiona dalam usaha pengembangan industri. Ekspor komoditi primer secara langsung berangs – angsur diganti dengan ekpor komoditi yang sudah diolah di dalam negeri. Strategi pendorong ekspor dilandasi oleh pemikiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya bisa direalisasikan jika produk – produk yang dibuat didalam negeri dijual dipasae X .

Rekomendasi agar strategi ini dapat berhasil :
1.      Nilai tukar harus realistis
2.      Adanya insentif untuk peningkatkan ekspor
3.      Tingkat proteksi impornya harus rendah

C.  Peran Teknologi & Dampak Industri Terhadap Penganguran
Pada dasarnya teknolgi juga mempunyai dampak negatif bagi manusia,. karena makin berkembangnya IPTEK menyebabkan manusia berfikir praktis, sealalu mengerjakan tugas dengan cara meng – copy tugas orang lain sehingga manusia tidak mempunyai skill yang dibutuhkan perusahaan atau tempat berkerja lainnya. Hal itu menyebabkanterjadinya pengangguran. Perkembangan IPTEK membuahkan revolusi industri yang menindas kelas pekerja dan melahirkan komunisme, selain itu juga menyebabkan kerusakan ekosistem alam akibat dari kemajuan IPTEK.
Kemajuan teknologi akan meningkatkan kemapuan produktivitas dunia industri baik dari aspek teknologi industri maupun pada aspek jenis produksi. Investasi dan reinvastasi yang berlangsung secara besar – besaran yang akan semakin meninngkatkan produktivitas dunia ekomoni, di masa depak perkembangan teknologi di dunia industri akan semakin penting. Tanda – tanda telah menunjukkan bahwa akan segara muncul teknologi bisnis yang memungkinkan konsumen secara langsung dan selera individu dapat dipenuhi dan yang lebih penting konsumen tidak perlu pergi ke toko.
Kecenderugan perkembangan teknologi dan ekonomi akan bedampak pada penyerapan tenaga kerja dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan. Kualifikasi tenaga kerja dan jumlah tenaga kerja yang di butuhkan akan mengalami perubahan yang cepat. Akibatnya, pendidikan yang diperlukan adalah pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja yang mampu mentrasformasikan pengetahuan dan skill sesuai dengan tuntutan kebutuhan tenaga kerja yang berubah.
Pembanguanan dan perkembangan industri mengakibatkan terjadi perubahan – perubahan di berbagai aspek sosial masyarakat, perubahan tersebut meliputi perubahan mata pencarian, perubahan jumlah kesempatan, perubahan tingkat pendapatan dan perubahan jumlah sasaran dan prasarana. Dampak dari pembangunan industri yang memberikan keuntungan meningkat baik langsung maupun tidak langsung dari kondisi sebelumnya.

Berikut dampak positif dan dampak negatif dari perkembangan teknologi
1.      Dampak positif
*. Penciptakan peluang usahan dan pekerjaan
*. Ketersediaan saranan dan prasarana
2.     Dampak Negatif
                        *. Pencemaran lingkungan
                        *. Potensi Komflik













REFERENSI:


NAMA KELOMPOK :

1.      AJENG NIKITA C              ( 20214656 )
2.      DANIA PURBAWATI        ( 22214511 )
3.      NURUL AINI                       ( 28214249 )
4.      PUJI FAJRIANI                   ( 28214546 )
5.      RESHA ARTIYANI                        ( 29214077 )
6.      RISTIA RISMAWATI        ( 29214529 )
7.      SIFA FAUZIAH                   ( 2A214256 )
8.      ZAKIYAH AULIA P           ( 2C214648 )

Jumat, 02 Januari 2015

AKU

Aku...
Aku hanya ingin terbang
Terbang bebas tanpa sangkat
Melayang tanpa beban
Bergerak tanpa ada yang menahan
Kan ku gapai bintang
Bintang yang paling terang

Aku...
Aku hanya ingin terbang
Terbang tinggi menembus cakrawala
Mengenggam dunia

Aku..
Aku hanya ingin terbang
Terbang dengan sebuah harapan dan juga impian


Karya: Sifa Fauziah
NPM:  2A214256

BISNIS INTERNASIONAL

BISNIS INTERNASIONAL
1.      Hakikat Bisnis Internasional
Bisnis internasional merupakan kegiatan bisnis yang dilakukan melewati batas-batas suatu Negara. Transaksi bisnis seperti ini merupakan transaksi bisnis internasional. Adapun transaksi bisnis yang dilakukan oleh suatu Negara ke Negara lain yang sering disebut Bisnis Internasional (international Trade). Dilain pihak transaksi bisnis itu dilakukan oleh suatu perusahaan dalam satu Negara dengan perusahaan lain atau individu di Negara lain disebut pemasaran internasional atau international marketing . pemasaran internasional inilah yang biasanya diartikan sebagai bisnis internasional , meskipun pada dasarnya ada dua pengertian. Jadi kita dapat membedakan adanya dua buah transaksi bisnis internasional yaitu :
a.      Perdagangan Internasional (International Trade)

Perdagangan internasional yaitu proses tukar menukar yang didasarkan atas kehendak dari masing-masing Negara. Adapun motifnya adalah mendapatkan manfaat perdagangan atau gains of tride.
Manfaat Perdagangan Internasional:
1.       Saling bertukar teknologi guna mempercepat pertumbuhan ekonomi
2.       Menjalin persahabatan antar negara
3.       Dapat membuka lapangan pekerjaan di negara yang menjadi tujuan pemasaran
4.       Dapat menambah jumlah dan kualitas barang  
5.       Meningkatkan penyebaran sumber daya alam yang dibutuhkan oleh negara lain.

b.      Pemasaran Internasional (International Marketing)
Pemasaran Internasional dianggap punya andil yang besar dalam memberikan jawaban dan antisipasi positif terhadap sejumlah isu global yang terus menyebar dan berubah dari waktu ke waktu.  Pemasaran internasional yang sering disebut sebagai bisnis Internasional (International Business) merupakan keadaan dimana suatu perusahaan bisa melakukan suatu transaksi bisnis dengan negara lain, dengan perusahaan lain  ataupun dengan masyarakat umum di luar negeri. Transaksi bisnis internasional ini pada umumnya adalah upaya yang dilakukan untuk memasarkan hasil produksi di luar negeri
2.      ALASAN MELAKSANAKAN BISNIS INTERNASIONAL

Alasan suatu negara melakukan bisnis internasional antara lain:

1. Tidak semua negara memiliki sumber daya alam yang dibutuhkan dan diinginkan
2. Apabila suatu negara mengalami kondisi dimana lebih murah membeli dibanding memproduksi  
3. Penjualan secara langsung dapat meningkatkan kondisi keuangan suatu negara. Semakin luas suatu negara memasarkan produknya, semakin banyak pula untung yang akan didapat oleh negara tersebut  
4. Suatu Negara ingin melakukan perdagangan internasional karena ingin melaksanakan transfer  teknologi, dimana transferteknologi modern berjalan lebih cepat karena teknik produksi yang efisien dapat dipelajari dan diterapkan dengan mudah. Cara-cara manajemen yang lebih  modern pun dapat dengan mudah diserap dan diterapkan.


a. Konsep Keunggulan Absolut
Adam Smith mengemukakan pendapatnya bahwa setiap negara akan mendapatkan manfaat  perdagangan internasional apabila melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang ketika negara tersebut punya keunggulan mutlak, serta mengimpor barang ketika negara tersebut punya  ketidakunggulan mutlak. Teori absolute advantage ini didasarkan kepada beberapa asumsi pokok antara lain: Faktor produksi yang digunakan hanya tenaga kerja. Kualitas barang yang diproduksi kedua negara sama. Pertukaran dilakukan secara barter atau tanpa uang. Biaya transport ditiadakan.

b. Konsep Keunggulan Komparatif
Teori keunggulan komparatif adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya,  perdagangan internasional terjadi jika ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia  menjelaskan bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa yang lebih banyak dengan biaya yang lebih sedikit dibanding negara lainnya.
c. Potensi Pasar Internasional
Potensi pasar ditentukan oleh tiga faktor yaitu struktur penduduk, daya beli serta pola konsumsi masyarakat. Struktur penduduk yang bervariasi membuat Perusahaan Multinasional harus memikirkan daerah mana yang cocok untuk memasarkan produknya. Daya beli yang bervariasi membuat perusahaan tersebut harus membuat dan memasarkan produk yang sesuai sehingga dapat menjangkau semua golongan. Pola konsumsi masyarakat yang tinggi mempermudah perusahaan tersebut menjual produknya dan mereka akan meningkatkan jumlah produksinya secara bertahap, sementara pola konsumsi yang rendah akan menyulitkan perusahaan memasarkan produknya sehingga mereka akan menurunkan jumlah produksinya secara bertahap.

3. TAHAP-TAHAP DALAM MEMASUKI BISNIS INTERNASIONAL
Perusahaan yang memasuki bisnis internasional pada umumnya perlu menjalankan beberapa tahapan,  baik  tahap yang paling sederhana dimana tidak mengandung resiko sampai dengan tahap yang paling kompleks dan mengandung risiko bisnis yang sangat tinggi. Proses-proses tersebut secara kronologis adalah sebagai berikut :

 1.   Ekspor Insidentil
Dalam rangka untuk masuk ke dalam dunia bisnis Internasional suatu perusahaan pada umumnya dimulai dari suatu keterlibatan yang paling awal yaitu dengan melakukan ekspor insidentil. Dalam tahap awal ini pada umumnya terjadi pada saat adanya kedatangan orang asing di negeri kita kemudian dia membeli barang-barang dan kemudian kita harus mengirimkannya ke negeri asing itu.
2.    Ekspor Aktif
Tahap terdahulu itu kemudian dapat berkembang terus dan kemudian terjalinlah hubungan bisnis yang rutin dan kontinyu dan bahkan transaksi tersebut makin lama akan semakin aktif. Keaktifan hubungan transaksi bisnis tersebut ditandai pada umumnya dengan semakin berkembangnya jumlah maupun jenis komoditi perdagangan Internasional tersebut. Dalam tahap aktif ini perusahaan negeri sendiri mulai aktif untuk melaksanakan manajemen atas transaksi itu. Tidak seperti tahap awal di mana pengusaha hanya bertindak pasif. Oleh karena itu dalam tahap ini sering pula disebut sebagai tahap “ekspor aktif”, sedangkan tahap pertama tadi disebut tahap pembelian atau “Purchasing”.

3.    Penjualan Lisensi
Tahap berikutnya adalah tahap penjualan Iisensi. Dalam tahap ini Negara pendatang menjual lisensi atau merek dari produknya kepada negara penerima. Dalam tahap yang dijual adalah hanya merek atau lisensinya saja, sehingga negara penerima dapat melakukan manajemen yang cukup luas terhadap pemasaran maupun proses produksinya termasuk bahan baku serta peralatannya. Untuk keperluan pemakaian lisensi tersebut maka perusahaan dan negara penerima harus membayar fee atas lisensi itu kepada perusahaan asing tersebut.

4.    Franchising
Tahap berikutnya merupakan tahap yang lebih aktif lagi yaitu perusahaan di suatu negara menjual tidak hanya lisensi atau merek dagangnya saja akan tetapi lengkap dengan segala atributnya termasuk peralatan, proses produksi, resep-resep campuran proses produksinya, pengendalian mutunya, pengawasan mutu bahan baku maupun barang jadinya, serta bentuk pelayanannya. Cara ini sering dikenal sebagai bentuk “Franchising”. Dalam hal bentuk Franchise ini maka perusahaan yang menerima disebut sebagai “Franchisee” sedangkan perusahaan pemberi disebut sebagai “Franchisor”. Bentuk ini pada umumnya berhasil bagi jenis usaha tertentu misalnya makanan, restoran, supermarket, fitness centre dan sebagainya.

5.    Pemasaran di Luar Negeri
6.    Produksi dan Pemasaran di Luar Negeri

4. HAMBATAN DALAM MEMASUKI BISNIS INTERNASIONAL
Pelaksanakan bisnis internasional memiliki hambatan yang jauh lebih besar ketimbang di pasar  domestik. Negara lain pasti punya kepentingan tersendiri untuk menghambat terlaksananya transaksi bisnis internasional. Selain itu kebiasaan atau budaya negara lain tentu saja akan berbeda dengan  negeri sendiri. Oleh karena itu, ada beberapa hambatan dalam memasuki bisnis internasional yaitu:
1. Batasan kuota dan tarif bea masuk:
Batasan kuota dalam bisnis internasional adalah apabila ada suatu negara yang tidak memperbolehkan transfer barang dalam jumlah yang besar. Sementara tarif bea masuk adalah pajak yang dikenakan terhadap barang yang diperdagangkan baik barang impor maupun ekspor. 
2. Perbedaan bahasa, sosial budaya/cultural:
Perbedaan dalam hal bahasa seringkali merupakan hambatan bagi kelancaran bisnis Internasional, hal ini disebabkan karena bahasa merupakan alat komunikasi yang vital baik bahasa lisan maupun tulis.  Pengaruh sosial budaya dalam bisnis internasional contohnya: Indonesia sebagai Negara berpenduduk mayoritas Islam, pasti menolak kehadiran Perusahaan Internasional yang menjual makanan haram,  semisal babi. Selain itu dalam hal busana, Perusahaan fashion tidak akan memasarkan produk bikini dan pakaian terbuka lainnya karena tidak cocok dengan kultur masyarakat Indonesia yang berpakaian sopan dengan ciri khas busana yang tertutup.            

3. Kondisi politik dan hukum/perundang-undangan:

Hubungan politik yang kurang baik antara satu negara dengan negara yang lain juga akan mengakibatkan terbatasnya hubungan bisnis antar kedua Negara tersebut. Ketentuan hukum ataupun perundang-undangan yang berlaku di suatu negara kadang juga membatasi berlangsungnya bisnis  internasional. Contoh: Saat demokrasi terpimpin, Indonesia cenderung berpihak pada blok timur,  sehingga kedekatan Indonesia dengan Cina dan Rusia menyebabkan renggangnya hubungan Indonesia dengan negara blok barat dalam berbagai hal termasuk perdagangan barang ke dan dari negara blok barat.

 4. Hambatan operasional:
Hambatan perdagangan atau bisnis internasional yang lain adalah berupa masalah operasional, antara lain:  
o   Transportasi atau pengangkutan barang yang diperdagangkan tersebut dari negara yang satu ke negara yang lain. Keadaan ombak besar yang mengganggu perjalanan kapal laut ataupun kondisi cuaca yang mempengaruhi lalu lintas pengiriman barang melalui udara adalah salah satu contoh masalah transportasi  penghambat kegiatan pengiriman barang sementara waktu. Keadaan dapat lebih gawat apabila barang yang dikirim adalah barang yang cepat berada dalam kondisi tidak layak semisal ikan.  Waktu pengiriman barang yang tidak sesuai terkadang membuat Negara yang dituju langsung meng-cancelpembelian produk tersebut.

o   Peraturan atau kebijakan Negara lain, dalam bentuk proteksi yaitu: usaha melindungi industri-industri di dalam negeri agar tidak disaingi oleh industri-industri dari luar negeri yang masuk ke dalam negara tersebut.

Contohnya: ada proteksi atas barang-barang Cina yang berupa industri alat-alat tulis untuk tidak masuk ke dalam pasar Indonesia, sehingga Perusahaan alat-alat tulis buatan Indonesia dapat lebih laris di pasar lokal, selain itu pemerintah biasanya memberi pinjaman untuk pengembangan usaha kepada  perusahaan tersebut sehingga suatu saat dapat bersaing di pasar internasional.

o   Perbedaan tingkat upah:
Dapat dicontohkan apabila ada perusahaan multinasional yang dalam perluasan usahanya ke suatu Negara, memberikan upah kepada karyawannya  terlalu kecil dikarenakan berbagai hal semisal kurs mata uang.

5. JENIS-JENIS PERUSAHAAN MULTINASIONAL

Perusahaan multinasional yaitu suatu perusahaan yang berbasis di satu negara (negara induk) akan  tetapi perusahaan itu memiliki kegiatan produksi ataupun pemasaran cabang di negara – negara lain (negara cabang). Berikut jenis-jenis perusahaan multinasional yang sangat terkenal:

a)      DUNKIN’ DONUTS
Dunkin’Donuts pertama kali masuk ke Indonesia melalui Penanaman Modal Asing Langsungnya dengan membuka perusahaan pertamanya di Jakarta. Dunkin’ Donuts sebelumnya juga telah membuka cabang-cabangnya (franchise) di berbagai negara, seperti negara-negara di Eropa.  Dunkin’Donuts pada mulanya tumbuh dan berkembang di kota Boston, Amerika Serikat pada tahun 1940 (dengan nama awal Open Kettle). Kemudian perusahaan ini terus tumbuh dan berkembang hingga akhirnya pada tahun 1970, Dunkin’Donuts telah berhasil menjadi perusahaan dengan merek internasional. Kemudian pada tahun 1983 perusahaan Dunkin’Donuts dibeli oleh Domecq Sekutu (Allied Domecq) yang juga membawahi Togo’s dan Baskin Robins. Di bawah  Allied Domecq, perluasan pasar Dunkin’Donuts secara internasional semakin diintensifkan. Hingga akhirnya gerai Dunkin’Donuts tersebar tidak hanya di benua Amerika saja, tetapi juga meluas ke benua-benua seperti  Eropa dan Asia. Di Indonesia sendiri, Dunkin’ Donuts mulai merambah pasarnya pada tahun 1985 dengan gerai pertama didirikan di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Khusus wilayah Indonesia, master franchise Dunkin’Donuts dipegang oleh Dunkin’ DonutsIndonesia. Saat pertama kali Dunkin’Donuts membuka gerai pertamanya di Indonesia (pada tahun 1980-an), tidak ada reaksi keras dari masyarakat untuk menentang perusahaan tersebut masuk. Masyarakat cenderung menyambut positif upaya perusahaan tersebut dalam memperluas jaringan  pasarnya. Mereka merasa senang atas hadirnya Dunkin’Donuts di Indonesia.

b)      LEVI’S JEAN 

Sebuah kisah menggambarkan sejarah  celana jeans yang telah diciptakan oleh Levi Strauss tahun 1880 ini, delapan tahun setelah jeans masuk ke Amerika Serikat (AS) tahun 1872. Jeans Levis pertama kali dibuat di Genoa, Italia tahun 1560-an. Kain celana ini biasa dipakai oleh angkatan laut. Orang Prancis menyebut celana ini dengan sebutan  “bleu de GĂ©nes”, yang berarti biru Genoa. Meski tekstil ini pertama kali diproduksi dan dipakai di Eropa, tetapi sebagai fashion, jeans dipopulerkan di AS oleh Levi Strauss, seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang mengadu peruntungannya ke San Francisco sebagai pedagang pakaian. Ketika itu, AS sedang dilanda demam emas. Levi Strauss & Co. adalah produsen pakaian di Amerika Serikat yang berdiri pada tahun 1853 oleh Levi Strauss. Perusahaan ini bersifat internasional dengan 3 divisi geografis yaitu:
1.    Levi Strauss North Americas, bermarkas di San Francisco,
2.    Levi Strauss Europe, dengan markas di Kota Brusel,
3.    Levi Strauss Asia Pacific, markas di Singapura.
Jumlah karyawan perusahaan Levi Strauss & Co.  sampai saat ini telah mencapai sekitar 8.850 di seluruh dunia.

c)      EPSON
Awalnya EPSON yang ada saat ini memang bukan berasal dari Indonesia, produk asal Jepang ini menjadikan Indonesia sebagai pusat produksinya. EPSON sesungguhnya berawal dari usaha jam merek Seiko. Ya, merek jam yang terkenal itu merupakan cikal bakal berdirinya EPSON. Boleh dibilang EPSON adalah anak kandung Seiko. Didirikan Hisao Yamazaki pada 1942, Seiko berada di bawah bendera Daiwa Kogyo. Kala itu, Seiko amat terkenal akan keunggulannya dalam teknologi presisi kinetiknya. Teknologi ini sangat memperhatikan detail, ketepatan, serta keakuratan secara mekanis dan berulang. Sebuah teknologi yang mencerminkan gaya hidup orang Jepang.
d)      KFC

KFC (dulu dikenal dengan nama Kentucky Fried Chicken) adalah suatu merek dagang waralaba dari Yum! Brands, Incyang bermarkas di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Didirikan oleh Col. Harland Sanders, KFC dikenal terutama karena ayam gorengnya, yang biasa disajikan dalam bucket. Col. Sanders mulai menjual ayam gorengnya di pom bensin miliknya pada tahun 1939 di Corbin, Kentucky yang selanjutnya pindah ke sebuah motel. Ia menutup usahanya pada akhir 1940-an sewaktu jalan tol Interstate melalui kotanya. Pada awal 1950-an, ia mulai berkeliling Amerika Serikat dan bertemu dengan Pete Harman di Salt Lake City, Utah, dan pada tahun 1952 bersama-sama mendirikan restoran Kentucky Fried Chicken yang pertama di dunia (restoran pertamanya tidak menggunakan nama tersebut). Sanders  menjual seluruh waralaba KFC pada tahun 1964 senilai 2 juta USD, yang sejak itu telah dijual kembali sebanyak tiga kali. Pemilik terakhir adalah PepsiCo, yang menggabungkannya ke dalam divisi perusahaan Tricon Global Restaurants yang sekarang dikenal sebagai Yum! Brands, Inc. Pada tahun 1997, Tricon terpisah dari PepsiCo.  Di Indonesia, pemegang hak waralaba tunggal KFC adalah PT. FastfoodIndonesia, Tbk (IDX: FAST) yang didirikan oleh Kelompok Usaha Gelael pada tahun 1978, dan terdaftar sebagai perusahaan publik sejak tahun 1994. Restoran KFC pertama di Indonesia dibuka pada bulan Oktober 1979 di Jalan Melawai, Jakarta.

e)      LG

Didirikan pada 1947, Lucky  Chemical Industrial Co. (sekarang disebut LG Chemical), adalah merupakan perusahaan kimia pertama di Korea. Perusahaan ini merupakan sebuah kerja sama antara keluarga Koo dan Heo, yang memiliki bisnis yang telah saling bersaing satu sama lain untuk beberapa generasi. Grup ini memperluas ke peralatan rumah tangga pada tahun 1958 di bawah nama Goldstar Electronics Co. GeumSung being Planet Venus (sekarang disebut LG Electronics), yang merupakan perusahaan elektronik pertama di negara tersebut.  LG Indonesia didirikan pada 15 Desember 1990 yang berpusat di Gedung Garuda Indonesia.

f)       BLACKBERRY
Berawal dari perusahaan kecil dengan modal hasil pinjaman, RIM berkembang menjadi perusahaan yang paling di kagumi dan di hormati di Kanada. Kisah sukses perusahaan dengan nama lengkap Research In Motion Ltd ini, berawal dari keinginan seorang pemuda yang di drop out dari kampusnya  untuk membuktikan diri. Adalah seorang berkebangsaan Yunani bernama Mike Lazardis yang berimigrasi  dari Turki ke Kanada pada tahun 1967. Pada usianya yang ke 23, Lazardis mendapat kenyataan pahit karena di keluarkan dari Universitas Waterloo, dimana dia mendalami teknik elektro. Lazardis mendapat pinjaman modal usaha dari teman dan keluarganya. Dengan modal tersebut, Lazarsis dan dua temannya mendirikan RIM di Waterloo,Ontario Kanada pada tahun 1984. BlackBerry pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada pertengahan Desember 2004 oleh operator Indosat dan perusahaan Starhub.

REFERENSI:


Nama; Sifa Fauziah
NPM: 2A214256